FOTO PENULIS: ROMA RISKI SIREGAR
OLIGARKI
DAN DINASTI POLITIK
Ditahun
2020 ini, tepatnya menjelang pilkada, parah petahana sudah mulai menunjukkan
taringnya kembali, ramai-ramai
para petahana membangun kerajaan di republik ini. Politik dinasti yang
diperkuat oleh oligarki partai telah mencabik wajah manis demokrasi.
Kini demokrasi telah menampakkan wajah aslinya,
monster yang siap menghisap darah rakyat demi kelanggengan kekuasaannya.
Setidaknya ada lima calon kontestan Pilkada yang berasal dari keluarga
petahana, dilansir dari akurat.co (19/07/2020). Menantu
Presiden Jokowi, Bobby Afif Nasution atau Bobby Nasution yang berniat maju di
Pilkada Medan. Bobby telah mendapat dukungan dari Partai Nasdem dan Golkar.
Gibran Rakabuming, putra sulung Presiden Jokowi, diusung oleh PDI-P menjadi
calon walikota Solo. Keponakan Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati
Djojohadikusumo maju sebagai Calon wali kota Tangerang Selatan (Tangsel). Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mendukung putri
Ma’aruf Amin, Siti Nur Azizah untuk maju ke Pemilihan Kepala Daerah Tangsel
2020. Digadang-gadang, PDI-P dan Gerindra menjadi kendaraan politiknya
menuju Pilkada. Pilar Saga Ichsan, anak Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah, maju
mendampingi Benyamin Davnie sebagai calon Wakil Wali Kota Tangsel.
Bukan sekedar meramaikan Pilkada, hadirnya
calon dari keluarga petahana membuktikan dua hal. Pertama, adanya dinasti
politik. Kedua, menelanjangi partai-partai yang menjadi oligarki.
Pertama, dinasti: dinasti politik adalah
kekuasaan yang secara turun temurun dilakukan dalam kelompok keluarga yang
masih terikat dengan hubungan darah, tetapi juga dengan mereka yang disatukan oleh sebuah pernikahan dan persaudaraan, yang artinya, mereka menjadi "satu ikatan". Tujuannya untuk mendapatkan atau
mempertahankan kekuasaan. Fenomena dinasti politik bukan kali ini saja dan
bukan hanya di Indonesia. Ia menjadi keniscayaan dalam sistem demokrasi.
Amerika Serikat memiliki banyak sekali dinasti
politik. Peter Schweizer menyebut keluarga Bush sebagai “dinasti politik
tersukses sepanjang sejarah Amerika Serikat”. Ada pula keluarga Kennedy dan
keluarga Clinton.
Jika di Indonesia kita mengenal keluarga Cendana
untuk dinasti politik Soeharto. Gurita Cikeas untuk politik keluarga SBY. Namun
tidak hanya kedua mantan presiden tersebut yang membangun kerajaan di
Indonesia. Ada mantan Presiden Soekarno yang saat ini anak, menantu, hingga
cucunya menjadi pejabat negeri. Dan masih banyak lagi.
Dinasti politik ini tak ubahnya seperti monarki absolut yang memakai topeng baru, yang memungkinkan kekuasaan dipegang oleh orang yang itu-itu saja dan dari lingkungan itu-itu saja. Dinasti politik di Indonesia sudah berlangsung sejak jaman Orde Lama, walau ketika Soekarno berkuasa, anak-anaknya saat itu tidak terlibat dalam politik, tetapi selepas reformasi 98 keturunan Soekarno mulai terlibat dalam urusan politik di Indonesia. Sebut saja Megawati sebagai mantan Presiden, Taufik Kemas sebagai mantan Ketua MPR, Puan Maharani sebagai ketua DPR, Guruh Soekarno sebagai anggota DPR, Puti Guntur sebagai anggota DPR, dan Rachmawati sebagai mantan Anggota Dewan Pertimbingan Presiden. Dinasti politik juga terjadi pada keluarga Soeharto, Hatta, Habibie, Gus Dur, SBY, Amin Rais hingga Joko Widodo.
Kedua, oligarki partai: Partai adalah
kendaraan politik para kontestan politik. Sedangkan oligarki semakna dengan
pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan
atau kelompok tertentu. Ketika calon yang diusung oleh partai
memenangkan kontesasi, maka nyaris semua kebijakan dipengaruhi oleh elit
partai. Silakan lihat sendiri fakta kepemimpinan Presiden Jokowi jilid 2 ini.
Siapa pengusung RUU HIP, RUU Omnibus Law, UU Minerba, UU Corona. Rakyat
menolak, tapi tetap saja dibahas dan diketok palu. Partai tertentu telah
mengendalikan negeri ini. Banteng moncong putih menjadi pengusung dan
pengendali pemerintahan saat ini.
Keterlibatan oligarki dalam politik hampir pasti
dilatarbelakangi oleh upaya untuk menjaga kekayaan pribadi— apa yang disebut
Winters sebagai “Industri Pertahanan Kekayaan”. Politik menjadi kanal
potensial untuk menjalankan kekuasaan demi menjaga kekayaannya. Mereka dapat
bebas memilih untuk mendukung, mensponsori, atau bahkan menjadi elit politik.
Ancaman kekuasaan oligarki di Indonesia sangat nyata, dan itu dapat dilihat
melalui ketimpangan ekonomi antara orang kaya dan yang miskin. Kesenjangan
kekuasaan material dalam masyarakat Indonesia merupakan salah satu yang
terbesar di dunia.
Demokrasi hanya memberikan fasilitas kesenangan
hidup di dunia yang semu. Itupun hanya dinikmati oleh segelintir orang.
Terutama para elit politik yang telah memiliki singgasana kekuasaan yang empuk.
Tak cukup mendudukkan dirinya, perlu juga menjadikan keluarganya menjadi
pejabat, membangun kerajaan. Sementara untuk rakyat biasa, demokrasi
telah memberikan harapan kosong dan janji palsu lewat mulut berbisa kontestan
pemilu. Disambangi tiap jelang pesta politik, namun dianggap tak ada ketika si
kontestan telah duduk di kursi jabatan.
Semoga ditahun ini, yang mendapatkan kursi bukanlah
orang-orang gila dengan dinasti nya, juga dengan kekuasaan dan harta, semoga
ditahun 2020 ini yang mendapatkan kedudukan adalah orang-orang yang komiten
dalam menjalankan amanahnya.
Penulis: Roma Riski. Siregar

Komentar