WAJAH HMI DAN PERAN “OKNUM"

Iklan Semua Halaman

Banner Iklan Sariksa

.

WAJAH HMI DAN PERAN “OKNUM"

Sulthan
Selasa, 24 November 2015
Berawal dari pengesahan APBDP oleh pemerintah provinsi riau bersama dengan anggota DPRD Riau, riau kini kembali hangat dibicarakan, tidak hanya menjadi tranding topic di jejaring medsos, juga mengisi penuh laman-laman media cetak dan elektronik. Ini bukan lagi soal korupsi suap APBD ataupun gugatan indikasi korupsi keluarga Plt Gubri, melainkan kebijakan anggaran yang oleh banyak kalangan menganggap bukan kebijakan yang populer dan berpihak kepada kepentingan masyarakat, yaitu kebijakan memberikan support dana hibah kepada kegiatan kongres XXIX Himpinan Mahasiswa Islam yang diselenggarakan di Kota Pekanbaru pada tanggal 22-26 November 2015.

Disaat yang sama, ketika hampir seluruh masyarakat riau masih mengenang betapa sadistnya pristiwa bencana alam kebakaran hutan, gas beracun yang menjelma dalam wujud “asap” seolah-olah ingin membumi hanguskan makhluk penghuni provinsi riau ini, alih-alih sebuah kebijakan bermuka kaku hanya menulis angka hampir setengah dari anggaran pelaksanaan kongres XXIX HMI yang hanya memakan waktu 5 (lima) hari saja. Sementara, penanggulangan bencana asap yang hampir 17 tahun hanya dihargai dengan 1.8 M untuk digunakan selama satu tahun kedepan, kita bisa bayangkan betapa pemerintah provinsi riau ini sangat abai dan terkesan menganggap sepele persoalan bencana itu, padahal pergantian musim selalu mengundang bencana yang berantai.

Alhasil, hampir satu minggu lebih ini kisah HMI dengan anggaran kongres milyaran itu menyedot perhatian masyarakat Indonesia, terkhusus bagi kaum pergerakan dan organisasi-organiasi lokal maupun nasional. Saat itu pula mulailah kritikan, tuntutan sampai gerakan petisi pembatalan anggaran kongres XXIX HMI yang menggunakan anggaran negara disuarakan kepada Pemerintah Provinsi dan Mendagri, karna dianggap tidak sesuai dengan kaedah azas kepatutan dan keadilan serta dianggap suatu pemborasan.

Beberapa hari ini juga bermuncuklan artikel-artikel kritikan, cemoohan dan penolakan terhadap anggaran kongres HMI yang bersumber dari uang negara itu, semakin memperkeruh citra HMI sebagai organiasi yang dikenal sangat kritis, cerdas dan populer dengan gerakan-gerakan membela masyarakat lemah dan pencari keadilan. Seketika menjatuhkan pamor organiasi HMI pada level terendah, sebagai kader yang sama bendera HMI meskipun berbeda kultur dan tridisi tentu penulis merasa terhenyuh, sedih dan marah, bagaimana tidak? organiasi yang selama ini tempat beraktualiasi diri seakan berubah wajah menajdi organisasi yang begitu fragmatis dan opurtunis. Terlebih peristiwa itu diperburuk dengan kejadian-kejadian yang sangat tidak mencermin tindakan kader Mahasiswa “Islam”, tindakan anarkis, kekerasan fisik dan tauran seakan juga mengubah wajah organisasi HMI ini bermetamorfosa menjadi organiasi preman.

Yaa mungkin kata pembelaan yang sedikit berarti sekedar untuk mengobati kegelisahan bagi para kader HMI yang sedang berkongres ini adalah “OKNUM”, menggambarkan perbuatan sekelompok anasir yang sengaja ingin merusak citra HMI ataupun kata “SENTIMEN” menggambarkan sekelompok orang yang sengaja menyerang, mengadu domba dan iri terhadap HMI karna mendapat support dana dari pemerintah. Penulis kira apapun alasannya, HMI sebagai organiasi telah keliru memilih kebijakannya, terlebih anggaran yang terekspos sangat fantastis, dilain peristiwa ada rombogan peserta kongres melakukan tindakan anarkis, dari mulai memblokade jalan, tauran, tidak bayar makan sampai pada tindakan kriminal hanya karena alasan lapar dan tidak dapat tempat beristirahat serta tidak dilayani oleh panitia. Sungguh incident yang sangat menggelitik hati.

Sebagai Organisasi, HMI adalah organisasi mahasiswa tertua, yang perjalanan sejarah pergerakan memang tidak kita ragukan kontribusinya terhadap Agama, Bangsa dan Negara, terlebih dalam melahirkan kader-kader pemimpin bangsa yang telah banyak terlibat baik di pemerintahan, partai politik, akademi sampai kepada pelaku usaha. ini menunjukan eksistensi HMI sebagai organiasi mampu menjadikan kader-kadernya sebagai kaum intelektual yang penuh inovasi dan kreatifitas, serta mampu mengambil peran untuk turut serta membangun bangsa dan negara.
Meskipun kontribusi yang besar terhadap bangsa dan negara tidak lantas ada pembenaran bagi HMI untuk kemudian merasa berhak dan berfoya-foya dengan uang negara, karna dengan anggaran yang sebegitu besar akan lebih sangat berarti dan bermanfaat bagi masyarakat miskin di Provinsi Riau ini, itu kita bisa lihat dari angka kemiskinan yang masih saja tinggi. Alangkah lebih arif dan bijaksana sekiranya HMI mau sedikit merendahkan hatinya untuk tidak memaksakan sesuatu yang akan mendatang pergunjingan bagi lembaga HMI yang sakral ini, tentunya hal demikian Sesutu yang mudharat bukan manfaat.

HMI tidak boleh begitu saja lupa bahwa tindakan segelintir “oknum” lah kemudian dalam sejarah perjalannya sebagai organisasi yang utuh terbelah menjadi dua pada kongres ke XVI 1986 di Padang, meskipun pembenaran karna adanya intimidasi penguasa orde baru terhadap pengurus PB saat itu hingga kemudian mengambil kebijakan menerima asas tunggal yang saat itu dipaksakan oleh pemerintah orde baru. Lahirlah HMI Majelis Penyelamat Organiasi yang kemudian menuntut dan menentang kebijakan PB HMI karna telah menerima asas tunggal yang bertentengan dengan konstitusi dan komitmen asas islam bagi organiasi HMI kala itu. Faktanya sampai hari ini HMI masih saja dalam perbedaan dua kelompok itu, seperti yang kita kenal HMI yang menerima asas tunggal yaitu HMI Dipo (HMI yang bersekretariat di Diponegoro menteng Jakarta) dan HMI MPO (majelis penyelamat organisasi) yang menolak asas tunggal. Penolakan yang dimaksud bukan berarti menolak pancasila, tapi lebih kepada penolakan terhadap pemaksaan dan kediktatoran rezim orde baru ketika itu, yang mengubah wajah pancasila menjadi begitu sangat menakutkan bagi masyarakat.

Berkongreslah dengan damai dan penuh hikmat, tanpa harus membuat keriuhan yang akhirnya membuat kegelisahan bagi HMI sendiri, sebab seminggu sebelum ini HMI MPO telah usai melaksanakan kongresnya yang ke XXX di Kota tengerang dengan penuh hikmat dan kesederhanaan, jauh dari hiruk pikuk dan keriuhan media, karna sesungguhnya bagi HMI bukanlah popularitas yang menjadi tujuan utama, tujuan HMI adalah membina kader-kadernya menjadi kader intelektual yang beriman dan taqwa, intelektual, kritis dan inovatif hingga akhirnya ia mampu menjadi khalifah yang memberi manfaat bagi agama, bangsa dan negara, Bukan menciptakan kader-kader yang fragmatis, opurtunis terlebih premanisme.

Bukan “oknum” ataupun “sentiment” kata yang tepat untuk sebuah pembenaran, jangan salah dan berlebihan menggunakan istilah “oknum” itu, karna bagi salah satu agama istilah itu sangat sakral dan suci yang akhirnya membuat persoalan dan masalh baru nantinya. Pembenaran yang lebih arif adalah introsfeksi dan evaluasi diri, khususnya bagi seluruh kader HMI yang berkongres, khawatirnya “oknum” itu ternyata lebih dominan dan banyak didalam tubuh HMI dari pada jumlah kader yang masih istiqamah digaris perjuangan HMI, maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk mebersihkan anasir-anasir yang menggerogoti tubuh HMI yang juga telah merubah wajah dan citra HMI dimata masyarakat luas.


SALAM YAKUSA

Oleh : Tata Maulana (Mantan Ketua Umum HMI - MPO Cab. Pekanbaru)