CEREMONIAL HARI PAHLAWAN : Sebuah Persfektif Realitas

Iklan Semua Halaman

Banner Iklan Sariksa

.

CEREMONIAL HARI PAHLAWAN : Sebuah Persfektif Realitas

Sulthan
Rabu, 14 November 2012

Oleh
Tata Maulana


Tata Maulana
 Sepuluh November, adalah hari nasional memperingati hari pahlawan yang banyak berguguran ketika berjuang melawan penjajahan demi terwujudnya satu kemerdekaan dan kedaulatan negara republik indonesia. Sebuah kisah yang menggugah semangat patriotisme anak bangsa dalam melanjutkan estafet perjuangan dari masa ke masa, hingga kinipun kisah ini masih bertemakan ceremonial refleksi perjuangan pahlawan bangsa yang gagah dan berani.

* * * * * * *
            66 tahun berlalu sudah bangsa ini telah meraih satu prestasi perjuangan yang tidak sedikit mengisahkan banyak sekali cerita-cerita yang syarat akan peneladanan dan motivasi, kisah ini menjadi begitu akrab bagi kita anak bangsa yang mengisi ruang prestasi perjuangan yang kita kenal dengan “kemerdekaan” yaitu, simbolisai kebebasan dan pembasan dari cengkraman penjajahan kolonialisme. Kemerdekaan sebuah cita-cita agung dan wujud nyata kerinduan dari nenek moyang kita terdahulu, sehingga mereka dengan rela dan ikhlas menyerahkan segala yang ada pada diri mereka berjuang untuk mewujudkan cita-cita agung tersebut.

            Pahlawan, sebuah perbendaharaan makna ungkapan yang kita fahami mampu mewakili rasa kagum, terharu dan rasa hormat kita kepada mereka-mereka yang tidak pernah sedikitpun mengharapkan pamrih dalam berjuang mewujudkan kebebasan tersebut, karna kita sangat yakin dan percaya apa yang mereka lakukan itu hanyalah demi bagaimana anak-anak cucu mereka kelak merasakan satu kebebasan yang tidak pernah lagi merasakan penindasaan dan penjajahan. Dan hari ini tentunya perjuangan itu terwujud, kitapun menikmati buah hasil perjuangan pahlawan-pahlawan yang telah merelakan merahnya darah mereka mengalir ditanah bumi pertiwi ini.

            Sudah pula saatnya sekarang kita sebagai generasi yang mewarisi negeri ini dengan segala kekayaan yang ada didalamnya untuk melanjutkan perjuangan pada tahap selanjutnya, apakah perjuangan itu??yaitu mengisi kemerdekaan dengan cara membangun kreatifitas diri untuk mengelola negeri ini berikut kekayaan yang ada didalamnya dapat kita manfaatkan dengan baik, untuk kepentingan bangsa kita sendiri, kesejahteraan, keharmonisan dan rasa aman dapat kita wujudkan bagai kepentingan kita bersama.

Makna Kemerdekaan

            PROKLAMASI kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan suatu peristiwa yang monumental dan sarat dengan nilai-nilai historis. Dengan gegap gempita bergemuruh suara “Merdeka, Indonesia Merdeka!”  di seantero nusantara. Kalimat  ini dalam historisitas politik  di Indonesia menggelorakan  semangat dan perjuangan rakyat untuk menjadi bangsa yang kian bermartabat. Pergerakan dan perjuangan bangsa demi kemerdekaan dalam menentang kolonialisme dan imperialisme.

            Memperingati dan menelusuri napak tilas perjuangan bangsa ini dalam mencapai kemerdekaan adalah sesuatu yang fenomenal. Atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa dan didorong oleh keinginan yang luhur, sehingga pada akhirnya  bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya.

          Pengertian kemerdekaan, secara etimologis dalam visi al-Qur’an  dikenal dengan  kata-kata tahrir,  seperti dalam ungkapan fatahrir al-raqabah (memerdekakan budak). Dalam bahasa Arab lazim dikenal istilah hurriyah yang berarti kemerdekaan. 

Secara terminologis, kemerdekaan (hurriyah)  mengandung makna sebagai usaha yang progresif untuk melepaskan diri dari belenggu dan cengkreman kaum penjajahan dari berbagai aspeknya. Penjajahan itu, di samping dikenal dengan kolonialisme dan imperialisme, juga dapat berupa penjajahan kultural, bahkan invasi intelektual (ghazwl fikri). Saat ini, kita seyogianya dengan usaha yang progresif mengisi kemerdekaan ini setelah melepaskan diri dari cengkreman penjajah dalam bentuk imperialisme, tetapi tetap waspada terhadap ghazwul fikri. Karena lebih dari 66 tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, perwujudan kenegaraan demokratis tetap merupakan agenda yang masih di depan mata. ( Efrinaldi, dalam artiket esensi kemerdekaan)

            Memaknai kemerdekaan tidak cukup hanya sekedar sebuah refleksi ceremonial belaka, karna perubahan zaman menuntut kita agar mampu mengambil ruang fleksibelitas yang kontekstual untuk membumikan potensi dengan daya kreativitas yang mumnpuni, hal ini merupakan sebuah eksistensi anak bangsa yang semestinya dapat direfleksikan sebagai wujud kelanjutan dari perjuangan kemerdekaan bangsa ini, begitupun dengan nilai patriotisme hendaknya mampu memacu motivasi kita agar menjadi generasi yang siap dan mampu mengisi ruang kemerdekaan bangsa ini lebih optimal. Sebab arus perubahan zaman kedepan melahirkan model penjajahan gaya baru ( neokolonialisme dan neoimprialisme) menyerang sendi-sendi berfikir dan struktur budaya yang terpola sistematis. oleh karena itu, sekiranya kita tidak menyiapkan sedari dini kemampuan intelektual yang sinergis dengan penanaman nilai-nilai kebudayaan lokal secara kuat, maka sudah bisa dipastikan kita akan tergerus kedalam sistem penjajahan gaya baru ini.

            Kemerdekaan sejatinya mengajarkan kita mampu mengambil satu makna penting dari nilai-nilai kebebasan yang berbudi pekerti, memperkokoh eksistensi yang dibekali dengan pemahaman kuat akan nilai-nilai kebudayaan bangsa, memberikan peran yang besar akan perwujudan cita-cita agung dari kemerdekaan bangsa ini secari arif dan akhirnya peran optimal yang dimaksud mampu menanfaatkan demi terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan bangsa indonesia secara haqiqi, jadilah negeri ini yang demoikratus Baldhatun Thaibatun Warbbun Ghaffu.

Apa Itu Kepahlawanan ??
           
            Sesungguhnya apa makna dari kepahlawanan bagi kita generasi bangsa saat in?? Adakah secara pemahaman sadar nilai-nilai kepahlawanan tersebut tertransformasi dalam kehidupan kita sebagai generasi bangsa saat ini???Tentunya ini merupak sebuah pertanyaan menggugah dalam diri kita, dan secara jujur pula kita harus berani mengakuinya, agar pertanyaan ini mampu kiranya kita jawab dengan sebuah agenda perbaikan dimasa-masa mendatang.

            "Pahlawan" adalah sebuah kata benda. Secara etimologi kata "pahlawan" berasal dari bahasa Sanskerta "phala", yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Secara terminolagi “Pahlawan” adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.
           
            Dari arti sederhana dari kata “pahlawan” diatas, dapat kita refleksikan maknanya betapa begitu besar perjuangan para pahlawan-pahlawan bangsa ini dalam perjuangan memperebutkan sebuah kemedekaan, arti penting ini melahirkan satu manfaat yang sangat besar untuk keberlangsungan kita generasi penerus. Bayangkan sekiranya kita hari ini tetap merasakan penjajahan tersebut, mungkin tidak akan pernah kita rasakan nilai keharmonisan dan kedamaian hari ini, menikmati kekayaan negeri ini sendiri, hidup dalam belenggu penindasan seperti masa-masa mereka dahulu, sungguh tidak mampu kita membayangkannya.

            Penting untuk sebuah perenungan bagi kita akan nilai-nilai paripurna kepahlawanan ini, syarat akan peneladanan dan arti penting dari sebuah pengorbanan, merelakan jiwa dan raga untuk kepentingan yang orang banyak, semuanya itu memberikan satu upaya bagaiman kita mampu untuk terus melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan dengan menanamkan sikap tanpa pahrih. Sekiranya kita semua generasi bangsa ini bisa meneladani sikap patriotisme dan melaksanakannya dengan baik, insyaallah cita-cita demokrasi untuk perwujudan kesejahteraan bangsa indonesia secara keseluruahan akan dapat terwujud.

Kondisi Realitas Generasi Bangsa

            Semboyan “Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Perjuangan Para Pahlawannya  Penting kiranya ungkapan ini  untuk kemudian kita hayati secara arif, makna yang terkandung sangat syarat akan nilai peneladanan, menggambarkan betapa kisah perjuangan pahlawan bangsa ini dirasakan akan mampu menggugah kesadaran dan motivasi kita sebagai generasi bangsa. Bayangkan saja sekiranya perjuangan pahlawan tidak dikukuhkan menjadi monumen history, tidak pula akan ada warna perjuangan kita hari ini untuk mengisi kemerdekaan jadi terarah dengan baik.

            Tentunya ini bukan sekedar kekahawatiran yang tidak beralasan, betapa hari ini bisa kita saksikan carut-marut kondisi bangsa hari ini, pemimpin kekuasaan yang di amanahkan kepercayaan untuk mengisi kemerdekaan dengan baik ternyata tidak mampu meledani nilai-nilai patriotisme yang sudah dikukuhkan tadi. Belum lagi persoalan moral generasi muda yang tergerus oleh arus perubahan zaman, mode trenseter dan gaya hidup saja yang diagung-agungkan, tidak pernah mau melibatkan diri secara aktif dalam fase perjuangan mengisi kemerdekaan dengan kreatifitas yang bermanfaat. Akhirnya menjadi sebuah penyakit yang terwarisi tanpa ada penawarnya sama sekali secara turun temurun.
           
            Hanya harapan pesimis secara perlahan memulihkan kesadaran oleh belenggu penjajahan gaya baru ini, hingga sampailah kita mesti secara perlahan pula untuk bangkit dan memulainya kembali dengan cara-cara yang benar. Kita tidak bisa lagi berharap banyak kepada elite-elite negeri ini untuk memberikan nilai-nilai peneladanan patriotisme, karna hampir disemua aspek struktur berbangsa dan bernegara mengalami kecacatan, baik persoalan keadilan, persolan kesenjangan, kemiskinan bahkan moralpun sudah dilanda penyakit kronis, diperparah lagi dengan mental elite-elite yang hanya menampakan sikap serakah memperkaya diri.
           
            Kita tidak bisa lagi harus membiarkan kondisi generasi bangsa ini secara terus menerus dalam belenggu kesemuan arah, mesti segera mengambil langkah-langkah sadar, bahwa suatu ketika jika hal ini dibiarkan terus berlanjut maka bangsa ini akan menemui kegagalannya sebagai sebuah negara, karena telah menjadikan rakyatnya miskin dan menderita, kemerdekaan yang kaqiqi menjadi sia-sia belaka.

            Akhirnya, semoga momentum peringatan hari pahlawan ini tidak sekedar merupakan sebuah peringatan ceremonial belaka, tidak meninggalkan kesan yang berarti demi perbaikan bangsa ini kearah yang lebih baik, karna sekiranya hanya sekedar ceremonial saja berarti inilah yang dinamakan sebuah kesia-siaan semata, kita menjadi bangsa yang tidak bersyukur akan anugrah kemerdekaan yang telah diberikan, akhirnya murkaNYApun turun membumi hangus kita yang berada didalamnya.

            Sesungguhnya akan lebih bermakna sekiranya kita mampu mentransformasi nilai-nilai kepahlawanan ini dalam diri kita, membumikan sebuah kreativitas yang banyak memberikan manfaat untuk bangsa dan negara ini, menjadi pemotor gerakan perbaikan dari kecacatan lingkaran setan bangsa kita hari ini. Sampailah dimana esensi kemerdekaan yang haqiqi dapat dirasakan utuh oleh seluruh rakyat indonesia.
            Semoga nilai pritriotisme terpatri dalam dada anak bangsa dan salam perubahan !!!